Search

Senin, 09 Juni 2014

Supply Chain Manajemen (SCM)

                                      Makalah Supply Chain Manajemen

BAB I 
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dikehidupan yang modern seperi sekarang ini,tentunya masalah seputar dunia bisnis menjadi semakin maju. Dimana saja, siapa saja, berbondong-bondong untuk membangun dunia usaha (Bisnis). Ada saja cara-cara yang dipergunakan oleh para pelaku bisnis untuk memajukan serta menjalankan bisnisnya dengan efektif dan seefisien mungkin. Banyak cara dilakukan namun terkadang belum mancapai target yang di inginkan.
Salah satu contoh yang bisa kita uraikan adalah masalah penyedian produk yang murah, berkualitas dan cepat, belum dapat terkoordinir dengan baik, serta trasportasi dan jaringan belum memadai. Untuk itu para pelaku bisnis harus menyadari bahwasannya, dengan proses yang terstruktur dan perhitungan dalam mengabil keputusan adalah penting untuk kemajuan bisnis tersebut.
B.       Identifikasi Masalah
1.    untuk menyediakan suatu produk yang murah, berkualitas dan cepat, perbaikan di internal perusahaan manufaktur adalah tidak cukup.
2.    Peran serta supplier, perusahaan transportasi dan jaringan distributor adalah dibutuhkan.
C.   Batasan Masalah
Untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas dan cepat, maka perlu adanya pengunaan konsep yang efektif dan efisien. “Untuk memenuhi tunutan tersebut konsep apa yang akan digunakan ? “
D.   Tujuan
Tujuan dari karya ilmiah ini, sebagai salah satu tugas mata kuliah Riset Operasional serta membantu dan mempelajari sedikit dari sekian banyak konsep-konsep manajemen agar lebih terstruktur dan kreatif. Salah satu konsep yang akan dibahas dalam karya ilmiah ini yaitu Supply Chain Manajement (SCM).
E.   Manfaat
Untuk sedikit membantu para pelaku-pelaku bisnis dalam menciptakan suatu produk yang murah, berkualitas dan cepat. Serta, memanagemen Sistem transportasi dan jaringan distributor agar lebih terstruktur.
F.    Metode Penelitian
Karya Ilmiah ini disusun menggunakan Metode penelitian Kepustakaan. Yaitu metode penelitian yang mencari sumber dari beberapa artikel-artikel yang telah ada.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Supply Chain Manajement ( SCM ).
Supply chain adalah sebuah sistem yang melibatkan proses produksi, pengiriman, penyimpanan, distribusi dan penjualan produk dalam rangka memenuhi permintaan akan produk tersebut .
Supply  Chain Management  (SCM)  adalah  kegiatan  yang melibatkan  koordinasi pengelolaan  bahan  baku/material,  informasi  bisnis  dan  arus  keuangan  dalam  hubungan bisnis  antar  organisasi/perusahaan  yang  berpartisipasi.  SCM  diartikan  juga  sebagai seluruh jenis kegiatan pengolahan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir kepada konsumen untuk kemudian dilakukan proses daur ulang bagi produk yang sudah dipakai, sehingga SCM  disini  bersifat  siklus  yang  berjalan  terus-menerus  seiring  dengan  proses bisnis suatu perusahaan.
Pengelolaan yang efektif atas integrasi antar pemain dalam rantai pasokan, perencanaan dan pengendalian yang baik atas kegiatan pengadaan pasokan, efisiensi aliran pasokan hingga sampai ke titik konsumsi akhir.
Atau dapat di sebut juga perancangan, desain, dan kontrol arus material dan informasi sepanjang rantai pasokan dengan tujuan kepuasan konsumen sekarang dan dimasa depan. Supply Chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.
Perusahaan-perusahaan tersebut termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, sertu perusahaan pendukung seperti jasa logistik. Ada 3 macam hal yang harus dikelola dalam supply chain yaitu pertama, aliran barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer, kemudian ke pemakai akhir.
B.      Tujuan Supply Chain Management
Tujuan  Supply  Chain  Management  adalah  untuk  memastikan  sebuah  produk berada pada  tempat dan waktu yang  tepat untuk memenuhi permintaan konsumen  tanpa menciptakan  stok  yang  berlebihan  atau  kekurangan.  Sebuah  operasi  yang  effisien  dari supply  chain  tergantung  pada  lengkap  dan  akuratnya  aliran  data  yang  berhubungan dengan produk yang diminta dari retailer kepada buyer , sistem transportasi dan kembali ke manufaktur.
Dalam  rangka memenuhi  stok  barang  yang  tersedia  untuk  retailer  , manufaktur harus menentukan jumlah produk yang diproduksi pada waktu tertentu. Dengan demikian berarti manufaktur harus meramalkan/ membuat perkiraan  jumlah penjualan. Dalam hal ini yang terbaik dilakukan adalah bersama-sama dengan retailer menggunakan suatu tolak
ukur  seperti misalnya CPFR( Collaborative Planning  Forecasting  and Replenishment  ). Ramalan ini digunakan untuk memperkirakan jumlah dan jenis bahan mentah yang harus dibeli, pengapalan dan waktu pengiriman untuk bahan mentah  tersebut dan waktu yang dibutuhkan  untuk  proses  di  manufaktur.  Kemudian  barang  yang  sudah  jadi  disimpan didalam gudang sampai diorder oleh distributor. Distributor  membeli  produk  dari  manufaktur  dalam  jumlah  yang  besar  dan mungkin  barang  tersebut  dimuat  dalam  truck  ,  pallet  atau  kemasan  lain  dari  produk tersebut.  Pada  saat  distributor  menerima  pengiriman  ,  kemudian  dipecah  menjadi pengiriman yang lebih kecil untuk dikirim ke retailer.
C.      Fungsi Supply Chain Manajement ( SCM ).
Ä  SCM secara fisik mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan menghantarkannya ke pemakai akhir.
Ä  SCM sebagai mediasi pasar, yakni memastikan bahwa apa yang disuplai oleh rantai supply mencerminkan aspirasi pelanggan atau pemakai akhir tersebut.
D.      Tujuh prinsip dalam SCM
1)        Segmentasi pelanggan berdasarkan kebutuhannya.
2)        Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan mpelanggan yang berbeda.
3)        Dengarkan signal pasar .
4)        Deferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen
5)        Kelola sumber-sumber suplai secara strategis..
6)        Kembangkan strategi teknologi untuk keseluruhan rantai supply chain .
7)        Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah supply chain secara keseluruhan.
E.      Manfaat SCM
Secara umum penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan memberikan manfaat yaitu (Jebarus, 2001) kepuasan pelanggan, meningkatkan pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan asset yang semakin tinggi, peningkatan laba, dan perusahaan semakin besar.
  1. Kepuasan pelanggan. Konsumen atau pengguna produk merupakan target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk yang dihasilkan perusahaan. Konsumen atau pengguna yang dimaksud dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu yang panjang. Untuk menjadikan konsumen setia, maka terlebih dahulu konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh perusahaan.
  2. Meningkatkan pendapatan. Semakin banyak konsumen yang setia dan menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan pendapatan perusahaan, sehingga produk-produk yang dihasilkan perusahaan tidak akan ‘terbuang’ percuma, karena diminati konsumen.
  3. Menurunnya biaya. Pengintegrasian aliran produk dari perusahan kepada konsumen akhir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur distribusi.
  4. Pemanfaatan asset semakin tinggi. Aset terutama faktor manusia akan semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Tenaga manusia akan mampu memberdayakan penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan SCM.
  5. Peningkatan laba. Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen yang setia dan menjadi pengguna produk, pada gilirannya akan meningkatkan laba perusahaan.
  6. Perusahaan semakin besar. Perusahaan yang mendapat keuntungan dari segi proses distribusi produknya lambat laun akan menjadi besar, dan tumbuh lebih kuat.
Keenam manfaat yang sudah dijelaskan seperti tersebut di atas merupakan manfaat tidak langsung. Secara umum, manfaat langsung dari penerapan SCM bagi perusahaan adalah :
  1. SCM secara fisik dapat mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya kepada konsumen akhir. Manfaat ini menekankan pada fungsi produksi dan operasi dalam sebuah perusahaan. Dalam fungsi ini dilakukan penggunaan dari seluruh sumber daya yang dimilki dalam sebuah proses transformasi yang terkendali, untuk memberikan nilai pada produk yang dihasilkan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan dan mendistribusikannya kepada konsumen yang dibidik.
  2. SCM berfungsi sebagai mediasipasar, yaitu memastikan apa yang dipasok oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir tersebut. Dalam hal ini fungsi pemasaran yang akan berperan. Melalui pelaksanaan SCM, pemasaran dapat mengidentifikasi produk dengan karakteristik yang diminati konsumen. Selanjutnya fungsi ini harus mampu mengidentifikasi seluruh atribut produk yang diharapkan konsumen tersebut dan mengkomunikasikan kepada perancang produk. Apabila seleksi rancangan produk sudah dilakukan dan dilakukan pengujian maka produk dapat diproduksi. Sehingga SCM akan berperan dalam memberikan manfaat seperti point 1 tersebut.
F.      Persyaratan Penerapan SCM
Sebagai suatu konsep yang melibatkan banyak pihak sebagai mata rantai, SCM menuntut beberapa persyaratan yang tidak hanya terkait dengan material, tetapi juga informasi. Syarat utama dari penerapan SCM tentunya dukungan manajemen. Manajemen semua level dari strategis sampai operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain dukungan manajemen, syarat lain merupakan syarat yang melibatkan faktor eksternal yaitu pemasok dan distributor.
Sebelum membangun komitmen dan melaksanakan ‘kontrak kerja’ dengan para pemasok, maka perusahaan terlebih dahulu harus melaksanakan evaluasi pemasok. Sebagi catatan, melaksanakan evaluasi pemasok untuk pemasok yang ‘bermain’ dalam pasar yang monopoli tentunya sulit dan tidak bias dilaksanakan, sehingga yang perlu dilakukan untuk kondisi ini adalah membangun kemitraan dalam suatu kesepakatan.
Evaluasi pemasok dilakukan apabila untuk material yang sama dapat diperoleh lebih dari satu alternatif pemasok. Setidaknya ada tiga kriteria dalam melakukan evaluasi pemasok, yaitu : keadaan umum pemasok, keadaan pelayanan, dan keadaan material. Beberapa contoh indikator dari setiap kriteria evaluasi pemasok adalah sebagai berikut (Gaspersz, 2002) :
1. Keadaan umum pemasok
  • Ukuran atau kapasitas produksi
  • Kondisi financial
  • Kondisi operasional
  • Fasilitas riset dan desain
  • Lokasi geografis
  • Hubungan dagang antar industri
2. Keadaan pelayanan
  • Waktu penyerahan material
  • Kondisi kedatangan material
  • Kuantitas pemesanan yang ditolak
  • Penanganan keluhan dari pembeli
  • Bantuan teknik yang diberikan
  • Informasi harga yang diberikan
3. Keadaan material
  • Kualitas material
  • Keseragaman material
  • Jaminan dari pemasok
  • Keadaan pengepakan (pembungkusan)
Dari ketiga kriteria tersebut, bobot (berdasarkan tingkat kepentingan) yang terbesar diberikan pada kriteria keadaan material, karena keadaan material akan mempengaruhi kinerja fungsi produksi dan operasi khususnya kualitas produk. Selanjutnya dilakukan penilaian untuk setiap indikator dan dihitung total skor-nya.
Syarat berikutnya adalah pemilihan distributor sebagai perantara produk perusahaan sampai ke tangan konsumen akhir. Intensitas saluran distribusi yang ideal bagi suatu perusahaan adalah bagaimana menyajikan jenis produk secara luas dalam pemuasan kebutuhan konsumen (Sitaniapessy, 2001). Penggunaan distributor yang terlalu sedkit dapat membatasi penyebaran jenis produk dalam aktivitas pemasaran. Sebaliknya, penggunaan distributor yang terlalu banyak dapat mengganggu brand image dalam posisinya berkompetisi. Satu kunci yang penting dalam mengelola saluran distribusi adalah menentukan berapa banyak saluran distribusi yang dikembangkan serta membentuk suatu pola kemitraan yang menunjang pemasaran suatu produk dalam area pemasaran tertentu.
G.     Tantangan Penerapan SCM
Meskipun SCM memiliki banyak manfaat dalam menjalankan sistem produksi dan operasi di perusahaan, tetapi ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya. Tantangan yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan eksternal. Misalnya saja trend perekonomian global yang menunjukkan adanya kecenderungan inflasi, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena persaingan di tingkat global memang sangat meningkat. Selain itu juga kecenderungan konsumen perilaku konsumen yang menunjukkan sikap terlalu rumit dan banyak menuntut. Faktor eksternal lain adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang terkait dengan teknologi informasi sedapat mungkin diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan SCM sehingga dapat mengelola informasi yang bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk. Sehingga sangat perlu bagi perusahaan yang menerapkan SCM untuk memiliki peralatan fungsional seperti (Watanabe, 2001) :
1)      Demand management / forecasting
2)      Advanced planning and scheduling
3)      Transportation management
4)      Distribution and deployment
5)      Production planning
6)      Available to promise
7)      Supply Chain Modeler
8)      Optimizer (Linier programming, non linier programming, heuristic, dan genetic algorithm)
Selain tantangan-tantangan tersebut, tantangan yang juga sering dihadapi khususnya negara berkembang adalah masalah infrastruktur termasuk birokrasi yang rumit. Masalah ini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tantangan SCM yang lain, yaitu teknologi informasi.
Di sisi lain, ada juga tantangan yang dapat digolongkan dalam lingkungan mikro atau di lingkungan perusahaan itu termasuk stakeholdernya. Misalnya saja pengukuran kinerja tidak didefinisikan dengan baik. Setiap channel menggunakan ukuran sendirisendiri, dan tidak ada perhatian untuk membuat keterkaitan dalam model matriks yang mengukur kinerja rantai secara keseluruhan.
Terkait dengan manajemen persediaan, kadang-kadang kebijakan persediaan terlalu sederhana, faktor-faktor ketidakpastian diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut, kadang-kadang terlalu statis. Selain itu terkadang pemahaman terhadap konsep SCM tidak lengkap, fokusnya sering berorientasi pada operasi internal saja, tidak dapat membedakan antara pelayanan terhadap intermediate consumers dengan end consumers. Untuk mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu perusahaan harus melakukan perbaikan dan membangun komitmen di lingkungan internal perusahaan tersebut, baru kemudian membangun kemitraan dan komitmen dengan mata rantai lain di lingkungan eksternal. Satu hal yang juga penting dalam mengatasi tantangan untuk penerapan SCM adalah mengelola informasi dalam sebuah sistem yang harus mendukung proses pengambilan keputusan di wilayah penerapan SCM.

H.      Skema hubungan Supply Chain dan SCM
Skema hubungan yang bisa dibentuk adalah sebagai berikut :

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1)             Dengan adanya konsep Supply Chain Manajement ( SCM ).Para pelaku-pelaku bisnis lebih mudah untuk menciptakan produk-produk handal, berkualitas dan cepat.
2)             Proses Pengolahan produk dari awal perencanaan, pemrodukan sampai pendstribusian menjadi semakin terstruktur dan terkoordinir dengan baik.
3)             Lebih efisien dan efektif dalam mengelola produk di sebuah instansi perusahaan.
4)             Penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan memberikan manfaat yaitu (Jebarus, 2001) kepuasan pelanggan, meningkatkan pendapatan, menurunnya biaya, pemanfaatan asset yang semakin tinggi, peningkatan laba, dan perusahaan semakin besar.
5)             Syarat utama dari penerapan SCM tentunya memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian.
6)             Tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya SCM yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan eksternal.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. SCM. http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_rantai_suplai
Aisonhaji. 2009. Supply Chain Management untuk sektor publik Anonim.
Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
Supply chain manajement ( SCM ) oleh “Muh Alfatih Hendrawan, ST”.
Supply chain manajement ( SCM ) on overview oleh “Musthofa Hadi, SE”
Mister.ebiz.blogspot.com
http://www.gs1.or.id

Senin, 31 Maret 2014

PROSES PENJUALAN DALAM SISTEM ORACLE

PROSES PENJUALAN DALAM SISTEM ORACLE



I.            Pengertian Oracle
adalah database relasional yang terdiri dari kumpulan data dalam suatu sistem manajemen basis data RDBMS (Relational Data Base Management System) yang multi-platform. Basis data Oracle ini pertama kali dikembangkan oleh Larry Ellison, Bob Miner dan Ed Oates lewat perusahaan konsultasinya bernama Software Development Laboratories (SDL) pada tahun 1977. Pada tahun 1983, perusahaan ini berubah nama menjadi Oracle Corporation sampai sekarang.


Server Oracle berisi Oracle Instance dan Oracle Database, dimana Oracle Instance berisi struktur memory yang disebut dengan  system-global-area (SGA) dan background-process yang dipergunakan oleh server Oracle untuk mengatur database yang meliputi :

a)      System Global Area Struktur memory dari Oracle Instance berada pada daerah memory yang disebut SGA, yang berisi data dan informasi pengontrol untuk server Oracle. SGA dialokasikan pada virtual memory komputer tempat server Oracle berada. SGA terdiri dari beberapa struktur memory yang meliputi : 
  • Shared pool, Dipergunakan untuk menyimpan informasi seperti statement SQL yang baru saja dieksekusi dan data dari data dictionary yang baru saja dipergunakan.
  • Database buffer cache, Dipergunakan untuk menyimpan data yang baru saja dipergunakan.
  • Redo log buffer, Untuk meyimpan perubahan yang dibuat pada saat mengoperasikan database mnggunakan instance tersebut.
  • Java pool, Digunakan untuk menampung kode-kode program Java.
  • Large pool, Digunakan untuk menampung I/O request dan sebagai penampung dari backup yang dilakukan recovery manager (RMAN).
  • Streams Pool, Digunakan untuk oracle streams, misalnya mengeluarkan pesan error, peringatan, pembersihan proses yang salah atau sudah tidak berguna lagi. 
Oracle terdiri dari 2 komponen utama, yaitu Instance dan Database. Kedua komponen ini sangat berbeda namun saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Database merupakan kumpulan data yang disimpan ke dalam sebuah physical storage, sedangkan instance merupakan kumpulan dari proses oracle dan alokasi memory yang ada di Oracle.


Konfigurasi instance dan database ini dibedakan menjadi 2 cara. Yang pertama, satu instance mengakses satu database, dan yang kedua, beberapa instance yang berjalan pada server / komputer yang berbeda mengakses satu database yang sama. Pada konfigurasi yang kedua, oracle menyebutnya sebagai Oracle Real Aplication Cluster (RAC).


Komponen database terdiri atas beberapa file fisik, antara lain :

  •  Datafile (tempat menyimpan semua data yang ada di Oracle seperti user data (table,index) dan data dictionary. 
  • Redo Log File (tempat catatan setiap transaksi yang terjadi di Oracle. Fungsi utama redo log file adalah untuk kebutuhan proses recovery.
  •  Control File (Control file berisi semua informasi file-file yang menjadi bagian dari database, seperti datafile dan redo log file.)
 
II.            Komponen-Komponen Database Oracle
Secara umum komponen DBMS Oracle terdiri atas memory, proses, dan file-file. Lebih jauh lagi, komponen-komponen tersebut dikelompokkan sebagai berikut :

1.      Instance, Memory yang disebut sebagai System Global Area (SGA), terdiri atas:

  •  Shared Pool (Libary Cache and Data Dictionary Cache)
  • Database Buffer Cache
  • Redolog Buffer Cache
  • Java Pool
  • Large Pool. 
  • Back ground process: PMON, SMON, DBWR, LGWR, CKPT, dan lain-lain
2.    Database
  • Datafile 
  • Control file 
  • Redo log file

3.    Komponen lain
  • Process : Server Process, user process
  • Memory : Program Global Area (PGA) 
  • File : Archived log, parameter, dan password fil
III.            Keunggulan Oracle dari Database lainnya 

 
Keunggulan-keunggulan database Oracle yang membuat Oracle sebagai produk database yang paling banyak dipakai adalah sebagai berikut: 
  • Scalability, kemampuan menangani banyak user yang Melakukan koneksi secara simultan tanpa berkurangnya performance secara signifikan. Dalam dokumentasinya, Oracle menyebutkan bahwa database Oracle dapat melayani puluhan ribu user secara simultan.
  • Reliability yang bagus, yaitu kemampuan untuk melindungi data dari kerusakan jikaterjadi kegagalan fungsi pada sistem seperti disk failure. 
  • Stability, yaitu kemampuan untuk tidak crash karena beban yang tinggi.
  • Availability,yaitu kemampuan dalam penanganan crash atau failure agar service tetap. 
  • Multiplatform, dapat digunakan pada banyak sistem operasi sepertiWindows, Unix, Linux dan Solaris. 
  • Mendukung data yang berukuran besar. Berdasarkan dokumentasinya, Oracle dapat menampung data sampai 512 petabyte(1 petabyte= 1024 terabyte). 
  • Security yang cukup handal
                                  
IV. Siklus Proses Penjualan dalam Oracle

 
Penjelasan Siklus :

1. Yang pertama sales order menerima pemesanan dari pembeli,mengedit pemesanan dan memintakan persetujuan pada bagian keuangan selain itu sales order juga bertugas untuk Menentukan tanggal pengiriman, rute pengiriman, alat transportasi yang digunakan, dari gudang mana barang harus dikirim. 
2. Kemudian untuk bagian credit atau customer service bertugas untuk memberikan pelayanan pesanan kepada pelanggan dengan baik.
3. Shipping  yaitu bagian yang bertugas untuk mengirimkan barang yang dibeli atas dasar pesanan dari bagian penjualan. 
4. Siklus ke 4&5 pada bagian ini secara bersamaan Bagian ini bertugas membuat faktur dan mendistribusikannya ke pembeli dan ke bagian akuntansi serta menerima pembayaran.
5. Bagian akuntansi bertugas untuk melakukan tagihan kemudian membukukan ke dalam jurnal penjualan dan secara periodik membukukan ke rekening buku besar.
6. Kemudian pada bagian ini bertugas menerima pembayaran harga barang dari pembeli dan memberikan tanda pembayaran (berupa pita register kas dan cap “Lunas” pada faktur penjualan tunai) kepada pembeli untuk memungkinkan pembeli tersebut melakukan pengambilan barang yang dibelinya dari fungsi pengiriman. 
V.            Dokumen yang terkait pada proses penjualan Oracle itu sendiri


Dokumen – dokumen yang terkait  Menurut Mulyadi (2001:463) dokumen yang terkait sistem penjualan tunai adalah sebagai berikut :

  •  Faktur penjualan tunai, Dokumen ini digunakan untuk merekam berbagai informasi yang diperlukan manajemen mengenai transaksi penjualan tunai. Faktur penjualan diisi oleh fungsi penjualan yang berfungsi sebagai pengantar pembayaran oleh pembeli kepada fungsi kas dan sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penjualan ke dalam jurnal penjualan.
  • Pita kas register, Dokumen ini dihasilkan oleh fungsi kas dengan cara mengoperasikan mesin register kas. Pita register kas ini merupakan bukti penerimaan kas yang dikeluarkan oleh fungsi kas dan merupakan dokumen pendukung faktur penjualan tunai yang dicatat dalam jurnal penjualan.
  • Bill of Lading, Dokumen ini merupakan bukti penyerahan barang dari perusahaan angkutan umum. Dokumen ini digunakan oleh fungsi pengiriman dalam penjualan COD (cash on delivery) yang penyerahan barangnya dilakukan oleh perusahaan angkutan umum.
  • Faktur Penjualan COD (Cash On Delivery, Dokumen ini digunakan untuk merekam penjualan COD. Tembusan faktur penjualan COD diserahkan kepada pelanggan melalui bagian angkutan umum. dan dimintakan tanda tangan penerimaan barang dari pelanggan sebagai bukti telah diterimanya barang oleh pelanggan. Tembusan faktur penjualan COD digunakan oleh perusahaan untuk menagih kas yang harus dibayar oleh pelanggan pada saat penyerahan barang yang dipesan oleh pelanggan. 
  • Bukti Setoran bank, dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetoran kas ke bank bukti setor dibuat 3 lembar dan diserahkan oleh fungsi kas ke bank. Dua lembar tembusannya diminta kembali dari bank setelah ditandatangani dan di cap oleh bank sebagai bukti penyetoran kas ke bank. Bukti setoran bank diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai dalam jurnal penerimaan kas.
  •  Rekap Harga Pokok Penjualan, Dokumen ini digunakan oleh fungsi akuntansi untuk meringkas harga pokok produk yang dijual selama satu periode. Dokumen ini digunakan oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen pendukung bagi pembuatan bukti memorial untuk mencatat harga pokok produk yang dijual. 
DAFTAR PUSTAKA :
3. http://kuliah.perbanas.ac.id ( Tentang Sistem Informasi Manajemen)